Pages

Kamis, 05 Desember 2013

(CERPEN) Gak Keren kalau Belum Masuk Pesantren


(CERPEN) Gak Keren kalau Belum Masuk Pesantren


www.majalah-alkisah.
comDulu, aku hanya tahu alasan utama memilih masuk pesantren karena ingin sekali menginjakkan kaki di Mesir. Hanya itu. Namun lambat laun setelah menimba banyak ilmu di sana, aku mendapatkan apa yang sebenarnya aku cari.

Tahun 2002 adalah tahun aku menamatkan sekolah dasar dan memilih melanjutkan studi ke sebuah pondok pe­santren ternama di kota kelahiranku. Pe­santren Ulumuddin namanya, sebuah pe­santren terpadu yang terletak di sudut kota, tepatnya di perbukitan Uteunkot Cunda, kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Pesantren ini sudah berdiri sejak tahun 1990 dan telah berhasil mencetak lulusan yang sebagian besar tersebar me­lanjutkan studi di Nusantara dan Ja­zirah Arab, seperti Mesir, Makkah, Madi­nah, dan Suriah.

Pesantren yang mengadopsi gaya Pe­santren Gontor ini juga memadukan pembelajaran sekolah dan kitab kuning serta menerapkan bahasa Arab dan ba­hasa Inggris sebagai bahasa harian.

Untuk masuk ke pesantren favorit ini tidaklah mudah. Selain sebagai pesan­tren favorit seantero Aceh Utara dan Lhok­seumawe, yang banyak diincar oleh siswa berprestasi, ujian masuknya juga menguji kemampuan berbahasa Arab dan bahasa Inggris. Sungguh ujian yang sangat sulit, mengingat waktu itu bahasa Arab belum menjadi pelajaran pokok di SD.

“Ummi, adek masuk ke pesantren ya?” pintaku kepada Ummi saat itu.

“Gak boleh, adek kan baru tamat SD. Masih umur 12 tahun, masih kecil untuk usia merantau, Ummi gak ngasih” Ummi langsung menolak permintaanku.

Memang yang ummi takutkan bukan ha­nya usiaku yang masih muda, tapi ka­rena fisikku yang kerap sekali sakit, bisa dibilang aku adalah anak berpenyakitan dan tidak bisa jauh dari obat.

Namun, keinginanku masuk pesan­tren sudah bulat. Malah aku bersikeras kepada orangtua tidak akan melanjutkan sekolah jika tidak di pesantren. Aku terus berusaha sekuat tenaga menyakinkan Ayah.

Alhasil, Ayah mengalah dan mem­beri kesempatan bagiku untuk mencoba­nya. Ayah juga meyakinkan Ummi un­tuk membiarkan putri keduanya melan­jutkan studi sesuai dengan kemauannya.

Setelah mendapatkan restu, aku pun mempersiapkan diri mengikuti ujian tulis­an dan lisan.

Masih segar di ingatanku pertanya­an-pertanyaan saat wawancara, “Kena­pa masuk pesantren? Di pesantren ma­kan ikan asin, sayur rebus, dan tempe. Apa kamu sanggup?” tanya penguji me­ngetesku.

“Sanggup!” jawabku tegas tanpa ragu.

“Di pesantren gak enak, banyak atur­an dan keras. Kalau melanggar, harus ke­liling lapangan. Sanggup?”

“Insya Allah sanggup!” jawabku tetap dengan rasa percaya diri.

Kulihat ustadzah yang mengujiku ter­senyum melihat gayaku yang kepedean.

“Terus di sini jauh dari orangtua, gak boleh pulang selain pada waktu liburan, dan semua harus diurus sendiri. Makan harus antre. Mandi dan ke toilet juga ha­rus antre.... Kadang gak mandi kalau gak ada air. Gimana, masih sanggup?”

Hah, tidak ada air? Tapi dengan se­genap keyakinan aku menjawab, “Insya Allah saya sanggup.”

Wawancara berakhir. Seminggu ber­lalu, aku tak sabar menunggu hingga siang sampai Ayah pulang kerja dan mem­bawakan koran. Dengan seksama aku melihat nomor ujian. Dan hasilnya, aku lulus! Aku melompat kegirangan.

Kulihat senyum bahagia dari Ayah. Sedang Ummi, beliau tampak sedih, karena akan berjauhan denganku.

***

Hari itu, tanggal 22 Juli 2002, awal mula aku menginjakkan kaki di pesan­tren dan menjadi seorang santri.

Berada di sana merupakan kebaha­giaan tersediri bagiku, memiliki banyak teman dan suasana baru. Suasana ser­ba baru jelas terlihat di rayon santri kelas 1. Kasur, seprai, lemari, semuanya baru.

Ada satu hal lagi yang unik di sana. Kalau sudah tiba waktu senja hingga ma­lam, akan terdengar suara tangisan di setiap kamar. Suara itu bagaikan koor ke­­lompok paduan suara yang saling ber­sahutan. Dan itu selalu terdengar selama seminggu setiap penerimaan santri baru setiap tahunnya.

Berbeda denganku, sedikit pun aku tak menangis. Malah aku menegur Ummi, yang memelukku erat sembari menangis kala hendak pulang, “Ummi, jangan na­ngis, malu dilihat orang.”

Tak lupa Ummi mengingatkanku un­tuk menjaga kesehatan dan tidak lupa minum obat.

Pernah suatu ketika, senior meng­ham­piriku yang sedang bersantai di ha­laman. Pesantrenku terletak di perbukit­an penuh dengan pepohonan dan sua­sana yang asri. Sungguh suasana yang enak untuk sejenak bersantai dan me­manjakan diri dengan pemandangan alam serta ditemani angin sepoi-sepoi. “Kenapa, Ukhti? Kangen rumah, ya?”

“Oh, gak, Ukhti, ana lagi santai aja. Ana heran sama kawan ana, mereka asyik nangis aja ingat rumah,” kataku.

“Emang anti gak nangis? Gak ter­ingat mamak?” tanyanya lagi. “Teringat sih, tapi gak sampe nangis juga. Kita di sini kan bukan dibuang, tapi mau bel­ajar,” jawabku.

“Oh... bagus, bagus kalau gitu, udah jadi santri gak boleh nangis lagi. Harus giat belajar dan bergaul, biar gak teringat rumah. Nanti betah sendiri kok. Di sini enak loh, banyak teman,” katanya lem­but.

Seminggu pertama, Ummi selalu me­nyempatkan diri setiap hari menje­ngukku. Padahal jarak rumahku dengan pesantren lumayan jauh. Ummi begitu khawatir.

“Ummi jangan datang tiap hari ya, adek malu sama teman-teman,” kataku sambil mengantar Ummi ke pintu ger­bang pesantren.

“Santri lain semua minta dijenguk, adek kok gak mau? Ummi kan cuma mau lihat keadaan adek di sini,” kata Ummi pelan.

“Adek di sini baik-baik aja, banyak kawan, dan gak kurang satu apa pun. Kalau Ummi datang selalu, kapan adek mandiri, Mi? Datangnya sebulan sekali aja ya.”

Namun, tetap saja Ummi datang se­minggu sekali.

Ternyata sesungguhnya aku pun me­rasakan hal yang sama dengan Ummi. Beberapa minggu menjadi santri, baru aku merasakan kerinduan yang mendalam. Aku kangen Ummi, kangen ru­mah, dan pengin pulang. Sore itu aku me­nangis tersedu-sedu di sudut mu­shalla. Terbersit dalam hati, “Begini ya kalau lagi kangen orangtua.”

***

Hari-hari di pesantren kami lewati bersama. Bahagia, lucu, penuh canda tawa, kekonyolan, dan air mata. Aku mu­dah beradaptasi dan bergaul, karena itu seminggu di sana aku sudah punya ba­nyak teman dan mulai dekat dengan kakak kelas.

Banyak keuntungan dekat dengan senior, aku diajari bahasa asing, dituntun mengikuti peraturan yang ada, dan mu­dah dikenal. Teman sekamarku pernah bilang, “Anti enak ya dekat dengan kakak kelas, semua kenal sama anti.”

Aku hanya membalasnya dengan se­nyuman. “Ntar deh ana kenalin dengan ukhti yang kelas aliyah ya.”

Ada kisah lucu ketika kami masih kelas 1. Enam bulan pertama, santri ke­las 1 tidak diwajibkan berbahasa Arab, tetapi cukup berbahasa Indonesia. Na­mun, masih ada santri yang sering kali keceplos ngomong bahasa daerah. Ter­masuk juga aku. Maklum, wong ndesa.

“Jangan ambil slop ana,” pernah te­manku berteriak di depan kamar.

Kontan semua orang melihatnya, karena ketahuan berbahasa daerah. Langsung saja dia kabur dan kami pun semua tertawa, karena kami tahu dia tidak sengaja keceplos.

Pernah juga, suatu malam, teman se­kamarku sakit parah dan harus di­temani oleh (sebut saja) Ani.

Setelah pulang mengaji, kami pun kembali ke kamar dan mendapati pintu terkunci. Kami menggedor pintu dengan sekuat tenaga, juga tidak ada sahutan sama sekali.

Kami mulai khawatir. Setelah 15 menit berlalu dan kami hendak melapor ke ustadzah, pintu terbuka perlahan.

Ternyata yang membuka adalah teman yang sedang sakit.

Kami langsung masuk, dan ternyata si Ani tidur terlelap. Ck ck ck... Ani... Ani...!

Kalau sedang mati lampu, itu adalah waktu yang pas untuk balas dendam de­ngan para senior yang jahil.

Suatu malam temanku pernah men­cubit keras salah satu kakak kelas ka­rena pernah dijahili. Dalam gelap ia me­nyelinap dan mencubitnya dengan ke­ras.

“Adoowww... who pinched me?” teriaknya kesakitan.

Langsung saja temanku kabur jauh.

Aku yakin, sampai saat ini senior itu tidak tahu siapa yang mencubitnya ma­lam itu.

Pernah juga kami dikejar dan sem­bunyi di kolong tempat tidur saat jam pel­ajaran berlangsung tapi ketahuan juga akhirnya. Setelah kejadian itu, gak per­nah lagi kami keluar kelas saat jam pel­ajaran.

Ada juga kejadian, aku sedang me­nuruni anak tangga dan mendengar sua­ra adzan yang menurutku jelek, lang­sung saja terbersit dalam hati, “Suara siapa itu, jelek sekali.” Setelah itu aku langsung tersungkur, jatuh dari tangga.

Itu yang kudapatkan setelah men­jelekkan orang lain. Gak lagi-lagi deh. Ya Allah, ampuni hamba.

Kejadian paling menyedihkan adalah ke­tika tragedi tsunami. Banyak santri yang kehilangan orangtua, sanak sau­dara, dan harta benda.

Ada seorang teman seangkatan kami yang sudah seminggu tidak ada kabar dari ibundanya. Sore itu dia men­dapatkan kabar bahwa ibundanya di­temukan empat kilometer dari rumahnya dalam keadaan tidak bernyawa. Spontan dia pingsan dan kami semua ikut ber­duka.

Kisah suka dan duka itu membuat kami sebagai santri menjadi sosok yang tegar, sabar, mandiri, dan saling berbagi.

Tak lengkap rasanya jika tak meno­rehkan kisah mistis di pesantren. Semua orang tahu, pesantren adalah tempat penampakan hantu atau pocong cs.

Pernah suatu waktu, ketika aku dan beberapa teman melakukan shalat Ta­hajjud di mushalla, ketika kami sedang khusyu’ shalat, lampu mushalla tiba-tiba mati, namun itu tidak menggangu ke­khusyu’an kami.

Setelah shalat, kami hanyut dalam doa. Nah, pada saat itulah tanganku se­rasa menahan berat beberapa ton. Se­makin aku berdoa, semakin berat beban itu. Rupanya temanku juga merasakan hal yang sama, namun tak disampaikan­nya. Begitu juga aku.

Setelah semuanya selesai, kami ber­lagak santai keluar dari mushalla, seperti tak terjadi apa-apa, namun saling meno­leh. Setelah meraba-raba sandal, tanpa aba-aba kami serentak lari terbirit-birit ke kamar.

Masih dengan napas tersengal-se­ngal, kami saling bercerita. Rupanya kami memang sedang diganggu.

Setelah itu lampu pun hidup kembali.

Pernah juga teman sekamarku me­lihat penampakan di depan kelas dan asrama. Seperti pocong atau kuntilanak. Kata­nya ia melihat makhluk berbaju pu­tih dan rambut panjang.... Hi, ngeri!

***

Episode mengenai sahabat juga tak pernah terlupakan. Betapa tidak, ber­sama merekalah aku melewati warna-warni kehidupan di pesantren selama enam tahun. Sahabat yang ada dalam suka dan duka. Ketika sakit, sahabatlah yang mengurusi. Dan ketika bahagia dan sedih, dengan sahabatlah kita berbagi. Bagiku sahabat adalah bagian dari jiwa ini. Friendship is one soul in two bodies.

Aku memiliki banyak teman, tetapi aku juga memiliki sahabat karib. Kami sering menghabiskan waktu bersama, belajar, bercanda, bermain, dan saling berbagi. Demikian juga orangtua kami, sudah dekat satu sama lain, layaknya saudara.

Kami berjumlah lima orang, dan se­pakat memberi nama Tu_kok. Bukan nama geng, tapi hanya nama untuk seru-seruan. Gak punya arti khusus, tapi karena lucu dan unik saja. He he he....

Suka duka, kami selalu bersama. Ke­tika sakit, teman sekamarlah yang men­jaga, menghibur, dan mengurusi semua­nya. Biasanya aku yang sering sakit, me­rekalah yang selalu mengingat­kanku mi­num obat dan mengurusiku.

Pernah aku sakit parah, hampir tiga hari tidak bisa bergerak, tanpa daya. Ka­lau mau ke kamar mandi, yang ter­letak di belakang asrama, aku dipapah dari lantai tiga.

Kala itu malam gelap dan mati lam­pu, dalam gelap mereka menggendong­ku turun dari lantai 3. tak pernah ku­lupa­kan kejadian itu.

Kami juga saling memberikan ke­jut­an saat ulang tahun, dan menyemangati ketika masalah melanda.

Pernah ketika salah seorang sahabat meng­ikuti perlombaan debat bahasa Ing­gris sekabupaten, kami melepasnya pergi dengan memasang sesuatu di lan­tai 2 gedung sekolah dan kami memang­gilnya. Ketika ia menoleh, kami lepaskan ikatan ke bawah dan di sana tertulis Good Luck, My Friend.... God Bless You.

Kulihat, ada butiran di sudut mata­nya. Dan dengan lirih ia berkata, “Thanks for your pray for me.”

Akhirnya ia membawa pulang juara II.

***

Tahun 2008, aku sudah sampai di tingkat akhir. Bulan April tepatnya kami akan mengikuti ujian nasional (UN).

Bagi kami, UN begitu mengerikan. Selain mempersiapkan UN, kami juga mempersiapkan diri mengikuti ujian akhir ma’had, secara lisan dan tulisan. Inilah ujian yang menentukan kami layak men­dapatkan ijazah ma’had atau tidak. Se­benarnya lebih mengerikan ujian ma’had, karena, jika kami gagal, sia-sia saja bel­ajar enam tahun di sana namun tak mam­pu lulus dengan baik dan gagal men­dapatkan ijazah. Semacam ada rasa malu tersendiri.

Saya beserta teman lainnya begitu serius mempersiapkan diri, mengikuti les, belajar bersama dan mencoba men­jawab soal-soal yang sudah ada. Kalian bisa membayangkan betapa padatnya ke­giatan kami enam bulan terakhir. Kami belajar siang malam, ke mana saja mem­bawa buku dan kitab dan hanya memiliki waktu istirahat sekitar tiga jam. Kala malam tiba, sebagian memilih belajar di mushalla, sebagian lagi memilih tempat yang sunyi dan mengandalkan lampu-lampu kelas yang masih menyala, dan kebanyakan memilih belajar di kamar, karena ketika sudah lelah bisa langsung tidur. Biasanya tipe yang terakhir ini pu­nya waktu belajar lebih singkat, karena keburu tertidur ketika melihat kasur.

Begitu setiap hari yang kami lakukan. Selain belajar keras, doa juga menjadi sen­jata andalan bagi santri. Aku selalu berdoa “Ya Rabb, berikan yang terbaik bagi hamba. Jika lulus yang terbaik, luluskan. Namun jika tidak, kuatkan hati ini dan jangan sampai hamba menangis. Berikan yang terbaik, ya Rabb. Amin.” Itu adalah sepenggal doa yang selalu aku ucapkan.

Sebagai senior, kami didoakan khu­sus oleh yunior, dan dukungan yang di­berikan begitu besar, sehingga kelelah­an yang kami hadapi tidak terlalu terasa, karena di setiap tempat kami selalu di­semangati “Ukhti, ma’annajah! Ad’u ilaiki ukhti”, atau “ Good Luck my sister for examination”, atau yang paling lucu “Good luck, sister, yes”.

Hari yang dinanti pun tiba, hari pengumuman UN, tanggal 14 Juni 2008. Hari itu kami semua sungguh dilanda kekhawatiran yang amat sangat dalam. Sebelum pengumuman, tersiar kabar bah­wa tahun itu santri tidak lulus 100%, ada tujuh orang yang gagal. Sungguh membuat kami semua tegang. Tiba saat­nya kepala sekolah membawa hasil pengumuman dengan memanggil yang lulus satu per satu ke depan.

Satu, dua, sampai ke nomor keseki­an namaku tak ada, itu artinya aku tidak lulus. Seakan ada yang menonjok hati ini. Tapi aku merasa, Allah mengabulkan doaku, sedikit pun aku tidak menangis. Aku menerima dengan ikhlas.

Dari kami berlima anak-anak Tu_kok, cuma aku yang gagal. Spontan mereka memelukku sembari menangis.

Pada saat bersamaan aku melihat wajah Ayah dan Ummi yang selama itu terlihat lembut dan menyenangkan de­ngan wajah yang senantiasa menjan­ji­kan semangat dan perasaan damai. Na­mun sore itu tidak bisa disembunyikan gu­rat harapan yang hilang. Putrinya telah gagal. Pemandangan itu yang me­robek-robek pertahananku. Oh Tuhan, jangan biarkan air mata ini mengalir, jangan.... Aku merasa, langitku saat itu berubah menjadi kelam dan gelap tanpa cahaya.

Setelah maghrib baru aku menangis sejadi-jadinya dan empat hari mengu­rung diri di kamar. Sebenarnya orang­tua­ku selalu menyemangati, karena itu bukanlah akhir dari segalanya. Tapi perasaan ini semakin sesak ketika me­ngetahui semua orang tidak percaya bah­wa aku gagal. Selama enam tahun di pesantren, aku termasuk santri ber­prestasi. Semua jajaran di pesantren pun seakan tidak percaya kenapa aku gagal dalam UN. Tapi itulah kenyataannya.

Kemudian aku tersadar bahwa aku hanya gagal di UN, namun lulus di ujian akhir ma’had dan mendapatkan ijazah. Ini bukan the end of my live, I must survive. Kalau menyerah, habislah su­dah. Maka, aku memutuskan untuk bangkit dan sebulan kemudian memu­tus­kan menggunakan ijazah pesantren untuk mendaftar di perguruan tinggi Islam kebanggaan Rakyat Aceh, IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Aku lulus dam masuk Fakultas Dak­wah. Mulai saat itu aku berjanji untuk menjadi yang terbaik dan membuat bang­ga orangtua.

***

Aku sangat percaya, Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas ke­sanggupannya. Harapan itu akan selalu ada dan aku harus bangkit untuk diriku dan orang yang mencintaiku dengan se­penuh hati.

Akhirnya, usahaku belajar keras se­lama empat tahun di perguruan tinggi ti­dak sia-sia, aku berhasil lulus dengan pre­dikat cum laude dan mendapat peng­hargaan dari rektor. Aku juga pernah menjadi asisten dosen, dan mengajar privat bahasa Arab. Saat ini, aku sudah menjadi staf di Dinas Sosial Provinsi Aceh dan menangani masalah sosial dan anak jalanan.

Masih jelas terekam dalam memori pe­san ustad zah kala pertama kali kami belajar, “Man jadda wa jada (Barang siapa bersungguh-sungguh akan ber­hasil)”. Itulah yang aku jadikan prinsip untuk terus berkarya, demi keluarga, aga­ma, dan bangsa.

Dulu, aku hanya tahu alasan utama me­milih masuk pesantren karena ingin sekali menginjakkan kaki di Mesir. Ha­nya itu. Namun lambat laun setelah me­nimba banyak ilmu di sana, aku menda­pat­kan apa yang sebenarnya aku cari. Di sana aku belajar ilmu pengetahuan, agama, dan kematangan spiritual, juga ke­madirian, kesetiakawanan, dan peng­ab­dian untuk agama. Pesantrenlah tem­pat aku mengenal perjuangan hidup.

Sekarang, ke mana pun aku pergi, te­tap aku terapkan disiplin pesantren dan menyarankan generasi di bawahku untuk melanjutkan sekolah di pesantren. Selalu aku katakan kepada mereka, “Gak keren kalau belum masuk pesan­tren.”

Kini, langitku kembali cerah, Allah telah menghadiahiku pelangi yang indah. “Maka nikmat Tuhan kamu yang mana lagi yang kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman: 21).

Nurul Hikmah, >--------------------------->>

Catatan:

Ukhti: Saudara (perempuan)
Anti: Kamu (perempuan)
Wong ndesa: Orang desa
Slop: Sandal
Who pinched me?: Siapa yang nyubit aku?
Friendship is one soul in two bodies: Persahabatan adalah satu jiwa dalam dua tubuh

Good Luck, My Friend.... God Bless You: Selamat, kawanku.... Tuhan memberkahimu

Thanks for your pray for me: Terima kasih atas doamu untukku
Ukhti, ma’annajah! Ad’u ilaiki ukhti: Sukses, Kak, doaku bersamamu
Good luck, my sister, for examination: Sukses, Kak, untuk ujianmu
Good luck, sister, yes: Sukses, Kak, ya
The end of my live: Akhir hidupku
I must survive: Aku harus bertahan

Tidak ada komentar: