Hujan masih meninggalkan jejak pelariannya di tanah ini. Kharisma
berbalut angin sepoi yang menerbangkan asa tiap individu. Jejak pelarian
hujan, bagaimanapun jua, akan tercium bahkan oleh mikroorganisme di
luar cakupan mikroskop elektron sekalipun.
Sejak zaman dulu, zaman sekarang, hingga zaman nanti hujan akan terus
berlari, berlari mengejar apa yang tidak kita kejar. Kaki kecilnya
menjilat hampa meninggalkan liur di atap-atap rumah, di tanah
pekarangan, di daun pohon bambu, di mana-mana. Suara erangannya
membahana tiap kali kaki kecil itu mulai melangkah di atap-atap rumah,
di tanah pekarangan, di daun pohon bambu, di mana-mana. Sebagian
menganggap musik harmoni, sebagiannya mencaci.
Pelarian hujan di mulai dari suatu desa di ujung dunia. Lari ke desa
lain dan menghilang. Ia seabstrak realita dan senyata abstraksi benda.
Ia tidak terikat hukum, ia hanya hujan. Membingungkan. Selama perjalanan
itu, hujan tidak jua mengistirahatkan kaki kecilnya berlama-lama. Hanya
saja, ia kerap singgah di sebuah kampung di ujung pedalaman hutan yang
paling dalam. Di mana pohon ratusan tahun masih menjulang, ngarai
ratusan meter masih tersedia, angin bahorok masih menerjang, air masih
masih menggenang, untuk sekadar berduka cita. Menundukkan kepala. Dan
berkelebat lagi. Apakah gerangan yang terjadi? Semua tidak tahu. Jikapun
kalian bertanya pada hujan, ia hanya akan mengernyit sinis dan lalu.
Seperti saat ini, hujan hanya sinis dan menundukkan kepalanya di kampung
itu. Rambutnya tergerai manja di antara getir kakinya yang nelangsa.
Lama.
***
Seluruh penduduk sedang meneteskan lelehan bening dari setiap
fluktuasi jiwa mereka. Kampung Lukyasa, kampung mereka sedang mengalami
kejadian heboh. Sangat heboh. Seorang perempuan, yang entah dari mana
rimbanya telah mengejutkan semua warga kampung ini. Bukan hanya
mengejutkan. Menghebohkan! Apa hebatnya perempuan yang bisa menembus
hujan? Tapi semua tercengang. Kedatangan perempuan itu sudah lama. Dalam
pertemuan, salah seorang warga bahkan mengiranya seorang penjual jamu
keliling.
“Perempuan itu memiliki rambut panjang tergerai. Ia membawa keranjang berisi botol jamu.” Jelas warga tersebut.
“Bukan. Ia adalah guru. Rambutnya di ikat rapi, berbaju dinas dengan
beberapa buku dan kaca mata bulat yang masih melekat.” Pendapat warga
lain yang sering melihat perempuan itu.
“Ia pedagang pasar! Kulihat dia dari arah pasar dengan keranjang penuh
dagangan. Aku tidak mungkin salah.” Aku warga lain yang memang berteman
dengan pertigaan di satu-satunya pasar kampung ini.
“Kalian bercanda? Perempuan itu pelacur! Ia menggunakan pakaian mini
dengan rok yang bahkan tidak melebihi panjang jari bayi.” Serbu warga
lain yang mengaku pendapatnya paling benar.
Semakin lama pertemuan itu berlangsung, semakin banyak pula spekulasi
bertebaran. Aneh, dari ribuan penduduk yang melihat lalu-lalang
perempuan itu tidak ada satupun yang memiliki spekulasi sama tentangnya.
Bahkan, mirip saja sudah dapat di hitung dengan jari. Padahal,
perempuan itu kerap melintas di depan ibu-ibu yang sedang arisan, di
samping pekerja borongan jembatan baru di kampung itu, di sekolah, di
mana-mana. Tapi, sekali lagi, pikiran penduduk tidak bisa dinyatakan
dengan perbandingan korelasi. Semua tersebar bagai ribuan merpati yang
di lepas bersamaan ke angkasa. Menyebar. Bebas. Dengan nalar sehat, hal
ini tidak mungkin. Ini memang tidak mungkin. Tapi ini terjadi. Mau
dikata apa?
Pertemuan itu akhirnya berujung ricuh. Tidak ada titik temu. Titik
terangpun buram. Orang yang saling berbeda pendapat mempertahankan
pendapatnya. Tiap penduduk memiliki pendapat sendiri, yang tentunya
menyalahkan pendapat penduduk lain. Ribuan pendapat lain. Kampung
menjadi memanas. Keadaan desa sudah tidak aman lagi. semua bersikukuh
bahwa perempuan itu adalah apa yang mereka lihat, karena jelas itu yang
mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri. Orang lain menganggap
orang lainnya gila, autis, skeptis, dan sebagainya. Tapi orang lainnya
lagi malah justru menganggap orang itu yang gila, autis, skeptis, dan
sebagainya. Entah yang mana yang skeptis, mana yang autis, atau mana
yang gila.
Setiap perkumpulan ibu, entah kenapa, semakin gencar melakukan
penarikan arisan. Sepanjang jalan, belasan jembatan borongan di bangun,
sekolah di tambah jam pelajarannya. Banyak lagi. Masih banyak
perkumpulan yang seolah-oleh di buat-buat. Semua berubah. Perubahan
tersebut terjadi begitu saja. Pihak terkait tidak membeberkan alasan
masuk akal. “Kepentingan mendadak” alasan mereka. Tapi, sebagian warga
berspekulasi itu untuk bertatap wajah dengan sosok perempuan itu.
Sebagian lagi, rumornya, berniat menangkap perempuan itu. Bahkan, ada
yang mau membunuhnya karena mengganggu kampung Lukyasa. Entah, siapa
yang peduli dengan alasan. Pikiran penduduk hanya dipenuhi ambisi
berbalut ego untuk menentukan pandangan siapa yang benar. Siapa yang
buta siapa yang rabun, siapa yang sehat. Harap cemas penduduk, siapa
tahu ia lewat, siapa tahu ia menebar senyum itu lagi, siapa tahu ia
melintas di antara gang-gang kecil di setiap penjuru desa, siapa tahu
dan masih banyak siapa tahu lagi.
Lima hari sudah masyarakat merubah aktifitas mereka. Desa sangat
ramai. Ramai sekali. Tiap sudut desa berisi perkumpulan. Membicarakan
apa saja, membahasa apa saja. Mulai dari pemerintahan pusat yang kacau,
korupsi, kampung mereka yang terisolir, apa saja. Tapi, jejak perempuan
itu tiada terendus oleh setiap hidung penduduk. Ia lenyap bagai asap
dupa yang menyatu dengan udara sehabis di bakar. Hilang.
“Biasanya perempuan itu menyongsong pagi dan terlihat di ujung desa.” Kata seorang ibu yang rumahnya di ujung desa.
“Ia sering mengibaskan rambutnya di gang depan rumahku. Cantiknya. Iapun
hendak memberiku nomor handphone-nya“ timpal seorang anak dari salah
satu ibu di perkumpulan itu.
“Di kedai aku melihatnya tiap senja menyapa. Ia biasanya memandang
lekat-lekat sebotol bir yang ia pesan. Aku merasakan kebahagiaan di
matanya.” Aku ibu pemilik kedai terbesar di kampung itu.
“Ia juga tak jarang di pantai. Membiarkan tubuhnya dijilati ombak liar
yang nanar. Dengan senyum yang kalian tahu.” Kata istri seorang nelayan
lain.
“Ia di mana-mana. Kapan saja.” Teriak perempuan dengan baju glamor.
Semua terdiam. Lama arisan itu terdiam hingga erangan hujan kembali
terdengar. Kaki-kakinya yang kecil kembali berputar putar di tanah
pekarangan, di daun pohon bambu, di mana-mana.
***
“Di mana kau pada kejadian itu?” celetuk salah seorang peserta arisan seminggu kemudian.
“Apa?”
“Kejadian yang akan selalu mengingatkanmu kepada jejak kaki, erangan hujan dan perempuan itu.”
“Aku tidak ingin kita membahas itu. Anggap tidak pernah terjadi.” Potong
ibu berbaju glamor itu lagi. Sepertinya ibu itu memiliki peran dalam
arisan tersebut. Berada atau darah biru. Entah. Buktinya peserta arisan
hening.
Tidak hanya arisan ibu tadi, para pekerja, para siswa, siapa saja sibuk
menunduk dan seakan melihat ke masa lalu dalam keterpurukan bersama.
Ketegangan menghilang seiring berjalannya waktu.
“Buat rintikan Tuhan ini tidak mengingatkanku pada gadis misterius itu.
Dan momen beberapa hari lalu” Keluh seorang pekerja yang menaruh sekop
seketika, selepas erangan dan kaki kecil hujan menyambut.
“Sabarlah. Kita tidak akan mengalaminya lagi.” timpal pekerja lain. Di
sekolah susana berubah. Tidak ada kurikulum yang masuk topik
pembicaraan. Hujan di luar tidak menyamarkan sedikitpun perluasan
pikiran mereka. Hujan memang merambat deras tak tersadar jiwa.
“Pada saat perayaan itu ya. Beberapa hari lalu tepatnya” Kata seorang guru yang telah mengabdi lama.
“Sekali lagi kau ungkit kejadian itu. Kau akan kumutasi. Diam dan
pikirkan tugasmu!” Sergah kepala sekolah yang tiba-tiba murka mendengar
tentang kejadian itu. Mungkin karena hujan dengan mudah menyerap
suaranya, atau karena benci dengan hujan yang tiada kunjung reda.
Kejadian sore itu memang masih menyisakan getir ketakukan bagi sebagian
warga. Sudah banyak penyair yang melukiskannya dalam bait puisi, banyak
cerpenis merangkainya dalam lantunan kata-kata sendu. Lagupun tak
sedikit tercipta. Kejadian sore beberapa hari lalu memang aneh.
***
Hujan seperti biasa hanya lewat sebatas sapa -belum berbela sungkawa
seperti saat ini- di Lukyasa. Hari sedang baik, rakyat menjadi satu di
lapangan desa yang cukup luas. Mereka merayakan panen yang sukses.
Ibu-ibu sibuk memasak nasi, anak-anak kecil bermain gemulai di rinai
hujan yang sembari menyapa kampung Lukyasa. Hembusan angin masih malu,
sangat sepoi melanda jiwa. Pohon berteriak manja pertanda kebahagiaan
rasa. Gelak canda hewan terbiaskan erangan hujan, bersatu menjadi suara
lembah yang selalu misteri di Lukyasa, selalu dinikmati. Para pemuda
berlinang keringat terlindung di bawah beringin. Tandu, kubu, dan
berbagai masalah teknis mereka kerjakan. Sore segera menggenang dan
perempuan misterius itu, seperti biasa, berjalan lewat lapangan untuk
menuju ujung desa dan pulang, entah kemana.
Senyum ramahnya menyapa setiap orang. Dari kejauahan. Sosoknya masih
samar di penglihatan. Tapi, orang dewasa di Lukyasa tidak ada yang mau
menembus hujan sederasa itu, mitos. Dan, perempuan itu, baru pertama
kali bertemu hujan di Lukyasa. Dialah perempuan itu. Perempuan yang
berani menembus hujan. Air hujan masih mengucur deras di setiap
pori-pori kulit bocah yang merindukan hujan di lapangan. Rambut mereka
saksi betapa indahnya bermain hujan dengan sejawat. Mata mereka saksi
perempuan itu melintas, masih dengan senyumnya, di samping mereka.
Ketertegunan bocah itu sama seperti warga lain. Sejenak, mereka
melupakan siapa wanita itu dan apa pekerjaannya. Wajah warga pias.
Melambangkan keterkejutan yang berubah jadi ketegangan. Warga ini memang
resesif tentang hal baru, apalagi yang tidak masuk akal. Seperti
perempuan yang sedang menembus hujan itu. Tidak ada setetes hujanpun
yang mengenai tubuh berisinya. Kaki-kaki kecil hujan, entah bagaimana,
tidak membasahi. Tidak jelas apakah itu melewati, menjauhi atau menguap
sebelum terkena kulit si perempuan. Perempuan itu masih tersenyum dan
hujan masih enggan menyentuhnya. Semua bocah berlari mencari dekapan
ibu, dan perempuan itu sampai di tempat para ibu. Tubuh bocah terasa
segar, berlumuran liur hujan yang nestapa. Tubuh perempuan kering, tak
tersentuh kaki hujan sedikitpun, setelah menembus hujan dari ujung desa.
Tak ayal lagi penduduk desa lari terbirit-birit. Pertemuan lenyap
dalam hitungan menit. Hanya ada kompor, nasi yang belum matang, dan
bahan lain. warga menghilang. Perempuan itu tertegun. Berjalan, dan
hilang di tengah hujan. Esoknya tiada beda. Warga memberanikan diri
lanjut. Lagi, perempuan itu tampak di sana. Warga kembali termangu
menelangsa dalam kenestapaan di tengah Hujan. Sekelompok warga, yang
entah kenapa, tak bisa menahan diri. Kejadian bergitu cepat dan
perempuan itu terbunuh di depan warga, masih di tengah hujan. Kematian
itu mengundang misteri. Ada warga melihat wanita itu di bunuh dengan
panah yang tepat di leher. Sebagian warga melihat sebilah pedang merobek
perut dan jantungnya. Asumsi lain, perempuan itu mati bergitu saja
tanpa sebab. Entah, yang mana yang benar. Ratusan warga yang melihat
dengan mata-kepala mereka tiada bersua satu. Pendapat berbeda bagai
watak manusia yang tercipta dalam kebhinekaan.
Jasad itu masih tegak di tengah hujan. Aneh, hujan perlahan mulai
menitik di kulitnya. Rintik dan deras menghujam. Jasad itu menjadi
basah, sebasah bocah yang meringkuk di pelukan ibunya sehabis menantang
hujan tadi. Darah perempuan itu menyatu dengan air hujan yang mulai
menggenang kecil. Darah itu memang merah, tapi setelah bercampur liur
hujan, ada yang melihat hijau, kuning, ungu, putih, hitam, bahkan tetap
merah. Aneh. Lebih aneh lagi, jasad perempuan itu bagai menunggal dengan
hujan. Setiap jengkal tubuhnya bergabung dengan tetesan hujan dan
lenyap dari pendangan mata. Hilang tak berbekas. Dalam sekejap di
ketertegunan yang mencekam itu. Warga ketakutan. Tak bisa bergerak.
Saling tatap, mencari pembunuhnya. Tak ada yang mengaku. Tak ada yang
beralasan. Semua sepi. Senyap. Esoknya jasad seorang warga ditemukan di
bawah hujan, mungkin itu pembunuhnya atau ia memang pemuda yang mati
termakan takdir hidup. Di tengah kerumunan warga, perempuan itu muncul.
Tidak dengan senyumnya, tapi sebuah ekspresi yang menyiratkan kesedihan
-dari matanya- yang mendalam. Sebagian penduduk melihatnya membawa
pisau. Sebagian lain memperhatikan darah yang menurut mereka mengalir
dari tubuh perempuan itu. Anak-anak banyak melihat perempuan itu
menangis. Entah, mana yang menyiratkan kebenaran sejati. Perempuan itu,
tanpa di sangka, menatap penduduk lekat-lekat dan kembali menunggal
dangan hujan di kejauhan.
Sejak saat itu hujan selalu berlama-lama di sini. Hujan akan sempat
berbela sungkawa setiap singgah. Awalnya singkat, dan perlahan semakin
lama. Hal ini mungkin pemicu lelehan bening dari setiap fluktuasi jiwa
penduduk. Hujan semakin sedih dan tega berlama-lama, mungkin berbela
sungkawa. Penduduk makin nelangsa. Hujan yang turun semakin tak
terkendali. Ada yang percaya perempuan itu anak sang hujan sendiri, atau
pendapat bahwa perempuan itu selingkuhan dari hujan, atau yang terbaru
bahwa perempuan itu adalah saudara hujan sendiri. Atau bahkan
manifestasi hujan. Entah. Siapapun perempuan itu, penduduk desa semakin
bingung dan ketakutan karena mereka tinggal menunggu air mata hujan yang
akan merendam kampung mereka perlahan.
Cerpen Karangan: Gede Agus Andika Sani
Blog: babibubebong.blogspot.com
Penulis merupakan seorang penggemar cerpen. keinginan terbesarnya adalah bisa dimuat di media, baik internet ataupun koran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar