Tersebutlah seorang Kiai yang memiliki seekor burung beo berbulu
indah nan istimewa. Apa saja keistimewaannya? Selain berbulu hitam
selembut beludru serta kuning yang keemasan, ternyata burung beo
tersebut mampu melafalkan dzikir yang sering diwiridkan oleh Sang Kiai.
Mulai dari "Allahu Akbar", "Alhamdulillah", "Subhanallah", "Laa ilaha
illa Allah", "Masya Allah", dan seterusnya.
Tidaklah mengherankan jika kemudian tampak jelas di pandangan para
santri betapa besar rasa sayang Sang Kiai terhadap beonya itu. Secara
Sang Kiai kerap menghabiskan waktu luang untuk bermain bersamanya. Mulai
dari memberi makan, memandikan, membersihkan sangkar, hingga berdzikir
bersama. Para santri yang melihat keakraban Sang Kiai dengan beo itu pun
tergoda untuk membayangkan jangan-jangan sedemikian inilah hubungan
Shahabat Abu Hurairah RA dengan kucing-kucingnya.
Namun demikian, pada suatu tengah malam, malang tak dapat ditolak.
Saat sedang bersiap mengambil air wudlu untuk tahajjud, seperti biasa
Sang Kiai bersiap melintasi sangkar burung kesayangan yang memang
terletak di dekat tempat berwudlu. Namun, kurang beberapa langkah
mendekati sangkar si beo, terdengar suara gaduh. Sangkar si beo
tergelimpang, dan betapa terkejutnya Sang Kiai saat bergegas ke arah
suara gaduh tersebut. Si beo dilabrak seekor kucing.
Spontan burung beo tersebut meronta-ronta untuk melepaskan diri dari
cengkeraman si kucing seraya berteriak parau, "Kaak... kaak... kak...."
Sang Kiai bergegas mengusir kucing kurang ajar yang sudah siap
melahap mangsanya. Seketika kucing itu pun menghambur pergi meninggalkan
si beo yang terus mengeluarkan suara "Kaak... kaak... kak...." Sebelum
Sang Kiai mampu berbuat lebih banyak, si beo telah menghembuskan
nafasnya yang terakhir.
Meneteslah airmata Sang Kiai saat itu juga. Dan ini ternyata
diam-diam disaksikan oleh para santri yang juga terkejut mendengar
keributan kecil di bagian belakang ndalem Sang Kiai itu.
***
Hari berganti hari. Pekan menjelma bulan.
Sejak peristiwa mengenaskan itu, rona bahagia seakan telah menghilang
dari wajah lembut Sang Kiai. Hampir setiap hari para santri hanya
mendapati kesedihan mendalam menghiasi wajah guru mereka. "Apakah
kemasaman seperti ini yang dialami Zulaykha saat Nabi Yusuf AS menolak
ajakannya?" batin mereka.
Keseharian di pondok dirasakan para santri demikian hambar. Tak ada
lagi canda tawa di sela-sela penjelasan Sang Kiai saat menjelaskan
baris-baris tulisan Arab tak bersyakal ketika bandongan. Tak ada lagi senyum tersimpul di ujung bibir Sang Guru saat mendengar kesalahan santri dalam menyetorkan sorogan. Bahkan, tak ditemukan lagi keakraban Sang Kiai di waktu menyapa mereka, "Cung... rene cung...."
Tak ingin muram durja di wajah mulia Sang Kiai menggelayut
berlarut-larut, seorang santri senior berinisiatif mengajak
teman-temannya untuk merembug masalah ini. Si santri senior pun membuka
rembugan mereka, "Agaknya murabbi ruuhinaa sangat terpukul
dengan kematian burung beo kesayangan beliau. Tapi, hal ini tidak bisa
dibiarkan. Kita harus cari bagaimana cara mengembalikan keceriaan beliau
sebagaimana sedia kala."
Semua membisu. Cukup lama. Entah apa yang berseliweran di pikiran masing-masing.
"Kang, sebelum membahas masalah solusi, sepertinya kita juga perlu
mencari tahu kenapa peristiwa ini bisa terjadi," tanya seorang santri
berpostur pendekar, pendek dan kekar.
"Ya, Kang," timpal yang lain hampir berbarengan.
"Entahlah... aku kira ada yang lupa mengembalikan kurungan si beo ke
gantungan sampai akhirnya si kucing bisa mendorongnya dari atas meja,"
analisa di santri senior.
"I.. iya.... Iya, Kang," sahut seorang santri tiba-tiba seraya
mengacungkan tangannya. Santri berambut kriwil itu manambahkan, "Tadi
sore, aku disuruh Kiai memberi makan beo karena beliau sedang ada tamu."
"Wah... bagaimana kau ini? Coba kalau kau hati-hati, parti tidak akan
terjadi peristiwa ini," serobot seorang santri dengan dialek Medan yang
kental.
"Maafkan aku Kang... Aku betul-betul lupa, Kang," jawab santri kriwil penuh rasa bersalah.
"Sudah... sudah.... Nasi sudah jadi bubur. Sekarang sebaiknya kita
cari solusi saja ketimbang meratapi yang tak mungkin kembali," simpul si
santri senior. "Apa sebaiknya yang kita lakukan sekarang?"
Hening. Sekitar duapuluh santri yang berkumpul semua diam seribu bahasa.
Selang beberapa saat kemudian, seorang dari mereka pun melontarkan
saran, "Bagaimana kalau kita urunan membeli seekor beo baru yang tak
kalah istimewa?"
"Maksudmu?" tanya si santri senior.
"Ya, kita kumpulkan uang semampu masing-masing kita, lalu kita cari beo baru yang punya kemampuan lebih ketimbang beo beliau."
"Aku mengerti itu. Tapi, apa yang menjadi tolok ukur kita dalam menilai beo yang lebih istimewa?" tanya si santri senior lagi.
"Iya, betul itu. Harus jelas tolok ukur keistimewaannya. Sebab, aku
cenderung tidak yakin akan ada beo lain yang lebih istimewa dari beo
Kiai..." timpal seorang santri lain.
Kembali hening. Kembali pikiran mereka menerawang entah kemana.
"Beo yang lebih istimewa?" gumam si santri senior. "Yang sama
istimewanya mungkin banyak... tapi kalau lebih istimewa... entahlah...."
"Aku tahu!" jerit santri pemberi saran tadi. "Bagaimana kalau kita
cari saja dulu beo yang sama istimewanya, baru kemudian kita latih beo
itu memekikkan kata 'Merdeka!'?"
"Maksudmu gimana sih, Kang?"
"Sampean semua tentu sudah tahu betapa besar jiwa nasionalisme Pak Kiai, kan?"
Seketika raut bingah menghiasi wajah santri-santri tersebut.
Semua mampu membaca arah pikiran si santri pemberi saran dan mereka pun
menerima sarannya. Mufakat pun tercapai dan bersepakatlah mereka untuk
mengumpulkan iuran seikhlasnya.
***
Tak butuh waktu lama, terkumpullah uang dalam jumlah yang cukup
besar, jumlah yang dirasa sudah cukup untuk membeli seekor beo istimewa
di pasar hewan di kota untuk kemudian dilatih memekikkan "Merdeka!"
Berangkatlah santri senior ditemani oleh si pemberi saran tadi ke
pasar hewan yang ada di kota. Baru saja memasuki pasar, nasib baik
menghinggapi mereka. Entah karena sepinya pengunjung, atau karena memang
jumlah uang urunan mereka yang besar, seekor burung beo yang sesuai
dengan harapan mereka berhasil didapatkan. Bahkan, beo baru tersebut itu
bisa menirukan kata "Merdeka!" hanya dalam sekali percobaan. Dan yang
lebih istimewa lagi, beo itu hanya perlu melihat kepalan tangan yang
teracung ke atas untuk melafalkan kata pemompa semangat nasionalisme
itu.
Singkat kata, pulanglah keduanya seraya membayangkan senyum yang akan
kembali terukir di bibir sang guru. Begitu sampai di pondok, keduanya
lantas mempersembahkan burung beo baru tersebut ke hadapan Sang Kiai.
"Apa ini?" tanya Sang Kiai.
"Ini adalah beo istimewa untuk panjenengan," jawab santri senior.
"Maksudmu?
"Ini adalah beo istimewa yang tidak hanya bisa berdzikir seperti beo
panjenengan yang mati itu," jawab santri senior. "Tapi beo ini juga bisa
berteriak 'Merdeka!'..." imbuh si santri senior.
"Lantas, untuk apa?"
"Untuk... untuk..."
"Untuk mengobati rasa kehilangan panjenengan atas beo panjengan yang mati tempo hari," serobot si santri pemberi saran.
Bukan senyum yang mereka dapatkan sebagaimana harapan mereka,
melainkan isak sesungukan Sang Kiai diiringi dengan buliran beling yang
mengalir dari sudut mata beliau.
"Kalau hanya untuk membeli beo yang sama atau bahkan lebih istimewa
dari beo yang mati beberapa hari lalu itu, aku bisa beli sendiri," dawuh Sang Kiai akhirnya.
Kedua santri yang bertugas mencari dan mempersembahkan beo baru yang
lebih istimewa itu pun saling berpandangan. Weladalah! Kenapa mereka
bisa lupa dengan kemungkinan itu? Tentu saja Sang Kiai bisa membeli
seekor beo baru untuk menggantikan si beo yang mati, bahkan lima atau
sepuluh beo sekaligus. Lantas, jika demikian, apa yang membuat Sang Kiai
bersedih?
"Terima kasih kalian telah berusaha untuk menghilangkan kesedihanku,
meskipun kalian masih belum tahu dengan perkara apa yang membuatku
sedih," dawuh Sang Kiai lagi.
Kali ini si santri senior dan si santri pemberi saran hanya mampu menekuri lantai.
"Tahukah kalian apa yang telah membuatku sedih?" tanya Sang Kiai sejurus kemudian.
Si santri senior dan si santri pemberi saran semakin menancapkan pandangan mata mereka menembus lantai.
"Ketahuilah bahwa yang membuatku sedih itu bukanlah kematian si
beo... yang membuat ku sedih adalah kata-kata yang keluar dari paruhnya
saat diterkam oleh si kucing," lanjut Sang Kiai. "Beo yang sudah sekian
lama bersama kita selalu melafalkan dzikir yang beragam itu hanya mampu
berteriak 'Kaak'... 'kak'... 'kaak'... saat meregang nyawa. Lantas,
bagaimana dengan kita? Kata seperti apa gerangan yang kelak akan keluar
dari lisan kita saat bersua Malaikat Izrail nanti?"
Gunungpati Semarang, 5 November 2013
Terinspirasi dari wejangan Habib Umar Muthohar saat saya menemani beberapa orang teman untuk sowan ke ndalem beliau.
sumber : nu.or.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar